Senin, 01 November 2010

Manusia dan Agama

MANUSIA DAN KEBUTUHAN DOKTRIN AGAMA
I. PENDAHULUAN
Agama selalu menyertai perjalanan hidup manusia sejak awal manusia diciptakan. Selagi nafas kehidupan manusia diatas dunia sudah dimulai, maka wahyu dari langit langsung turun untuk memberi bimbingan. Agama adalah cahaya kehidupan dengan membukakan jalan dan merupakan metode yang paling mumpuni untuk menegakkan kehidupan manusia diatas dunia. Agama bertujuan untuk menegakkan risalah kebenaran, yaitu mendiami dunia untuk menegakkan keadilan, mempersatukan antar sesama.
Dalam ajaran agama memberikan jalan kepada manusia untuk memperoleh rasa aman dan tidak takut menghadapi hidup. Dan ajaran agama menunjukkan cara-cara yang harus dilakukan dan menjelaskan hal-hal yang harus ditinggalkan agar manusia memperoleh rasa aman dalam hidupnya. Agama membimbing manusia untuk melakukan perbuatan positif dan menjauhi tindakan-tindakan yang negatif.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Pengertian manusia dan agama
B. Kebutuhan manusia terhadap agama
C. Fungsi agama dalam kehidupan
D. Rasa ingin tahu manusia
E. Doktrin kepercayaan agama
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Manusia dan Agama
Manusia menurut agama Islam adalah makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu di dalam al-Qur'an manusia tidak digolongkan ke dalam kelompok binatang selama manusia mempergunakan akalnya dan karunia Tuhan. Namun, kalau manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan yang sangat tinggi nilainya, yakni pemikiran, kalbu, jiwa, raga, serta panca indera. Secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan.
Seperti yang dijelaskan Allah di dalam al-Qur'an surat al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الاعراف: 179)

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Qs. Al-A’raf: 179)

Menurut ajaran Islam, manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya, mempunyai berbagai ciri, antara lain ciri utamanya adalah:
1. Makhluk yang paling baik, dijadikan dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna,
2. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan),
3. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepadanya,
4. Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifahnya di bumi,
5. Manusia dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak,
6. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya,
7. berakhlak.
Secara sederhana, pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasaan (etimologis) dan sudut istilah (terminologis).
Pengertian agama dari segi bahasa dapat kita ikuti antara lain uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya, dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata din (دين) dari bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa. Menurutnya, agama berasal dari kata Sanskrit. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, kata itu tersusun dari dua kata a = tidak dan gama = pergi. Jadi, agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun-temurun. Hal demikian menunjukkan pada salah satu sifat agama, yaitu diwarisi secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Selanjutnya ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa agama berarti tuntunan. Pengertian ini nampak menggambarkan salah satu fungsi agama sebagai tuntunan bagi kehidupan manusia.
Selanjutnya din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, dan kebiasaan. Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum, yang harus dipatuhi penganut agama yang bersangkutan. Selanjutnya agama juga menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama.
Adapun kata religi berasal dari bahasa latin. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, bahwa asal religi adalah relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengertian demikian itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Tetapi menurut pendapat lain, bahwa kata itu berasal dari kata religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Dalam agama selanjutnya terdapat pula ikatan antara roh manusia dengan Tuhan. Dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan Tuhan.
Dari beberapa definisi tersebut, akhirnya Harun Nasution menyimpulkan bahwa intisari yang terkandung dalam istilah-istilah di atas adalah ikatan. Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap oleh panca indera.
Ada pula pendapat yang diperkirakan dapat melengkapi pengertian din, antara lain dikemukakan oleh Moenawar Chalil. Menurutnya, kata din adalah masdar dari kata kerja dana-yadinu yang antara lain berarti cara atau adat kebiasaan, peraturan, undang-undang, taat, dan patuh, menunggalkan ketuhanan, pembalasan, perhitungan, hari kiamat, nasihat dan agama.
Demikian pula ketika din diartikan sebagai nasihat, pengertian itu bisa difahami karena muatan yang terdapat dalam din antara lain adalah bimbingan hidup atau nasihat agar penganutnya memperoleh kehidupan bahagia lahir batin.
Selanjutnya karena demikian banyaknya definisi tentang agama yang dikemukakan para ahli, Harun Nasution mengatakan bahwa dapat diberi definisi sebagai berikut:
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi,
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia,
3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia,
4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu,
5. Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan gaib,
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib,
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia,
8. Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.
Karena agama mengenai kepentingan mutlak setiap orang dan setiap orang beragama terlibat dengan agama yang dipeluknya, maka tidaklah mudah membuat sebuah definisi yang mencakup semua agama. Kesulitannya adalah karena setiap orang beragama cenderung memahami agama menurut ajaran agamanya sendiri. Hal ini ditambah lagi dengan fakta bahwa dalam kenyataan agama di dunia ini amat beragama. Namun, karena ada segi-segi agama yang sama, suatu rumusan umum (sebagai definisi kerja) mungkin dapat dikemukakan. Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang dinyatakan dengan mengadakan hubungan dengan Dia melalui upacara, penyembahan dan permohonan dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau berdasarkan ajaran agama itu. Disamping segi-segi persamaan, antara agama yang beragam itu terdapat juga perbedaan-perbedaan, seperti telah disebut di atas. Dalam menghadapi perbedaan-perbedaan itu di dalam masyarakat majemuk karena beragamnya agama di tanah air kita sikap yang perlu ditegakkan oleh pemeluk agama adalah sikap “agree in disagreement, sikap setuju (hidup bersama) dalam perbedaan.”

B. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama
Untuk mengetahui kebutuhan manusia terhadap agama dapat dilihat antara lain dari segi kebutuhan fitrah manusia, kenyataannya manusia memiliki fitrah keagamaan, yang pertama kali ditegaskan dalam ajaran Islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia. Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia beragama. Oleh karenanya ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut memang amat sejalan dengan fitrahnya itu.
Manusia memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk lainnya, salah satunya yaitu menyangkut kode etik. Itu sebabnya diatur sistem muamalah mu'annas (saling hubungan antar manusia). Antara lain dibentuklah apa yang disebut lembaga pernikahan dimana diatur dan ditetapkan soal akad nikah sebagai pangkal tolak pembangunan rumah tangga sejahtera dan bahagia. Suatu masyarakat manusia yang beradab, hanya mungkin terjadi kalau dilanjutkan dengan menegakkan keadilan. Sedang keadilan itu bersumber kepada hukum. Yang mampu memberikan kode etik yang bernilai absolut untuk mengangkat martabat manusia dan membedakannya dari seluruh jenis binatang hanyalah agama. Sebab itu agama merupakan kebutuhan primer bagi manusia.
Kelebihan manusia lainnya yaitu manusia dikaruniai akal oleh Tuhan. Akal pikiran yang bersumber pada otak yang sehat tidak mampu menyelesaikan misteri-misteri kehidupan yang dihadapinya. Akal dan pikirannya tidak mampu memecahkan persoalan hidup sesudah mati, bahkan yang lebih ringan dari persoalan itu, misalnya besok apa yang akan menimpa dirinya, akal pikiran tak mampu menjawab secara pasti. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan potensi yang terbatas dalam menghadapi persoalan kehidupan yang kompleks. Al-Qur'an menyebutkan dengan secara ringkas dalam surat An-Nisa: 28 sebagai berikut:
...وخلق الانسن ضعيفا
Artinya: "...dan dijadikan manusia itu lemah"
Realita ini memaksa manusia mencari potensi lain untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya. Potensi yang dimaksud tidak lain adalah agama Allah.
Informasi mengenai potensi beragama yang dimiliki manusia itu dapat pula dijumpai dalam ayat sebagai berikut:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (الاعراف: 172)
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Qs. Al-A’raf: 172)

Berdasarkan informasi tersebut terlihat dengan jelas bahwa manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk Nabi dalam salah satu haditsnya yang mengatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Manusia secara umum mempunyai dua kebutuhan, pertama kebutuhan spiritual dan kedua kebutuhan material. Daya tahan agama bagi kehidupan manusia banyak ditentukan oleh peran yang dimainkan agama bagi pemenuhan kebutuhan manusia tersebut.
Murthada Muthahhari mengatakan, jika kita ingin mengatakan dengan pasti bahwa agama akan kekal dan langgeng, haruslah ada salah satu dari dua hal berikut, yakni agama itu betul-betul merupakan kebutuhan alami, atau menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan alami tersebut, dengan syarat ia merupakan satu-satunya sarana untuk memenuhi kebutuhan ini atau kebutuhan-kebutuhan fitri yang lain, sehingga tidak ada sarana lain yang lebih baik daripadanya. Jika ada sarana lain yang lebih utama, lebih berfaedah dan lebih besar pengaruhnya daripada agama, akan hilanglah kebutuhan manusia akan agama. Agama akan ditinggalkan dan manusia akan beralih dan berusaha meraih sarana lain tersebut. Karena itulah, Muthahhari berkesimpulan, bahwa pada hakikatnya agama memiliki kedua keistimewaan tersebut. Ia merupakan kebutuhan fitri dan emosional manusia. Ia juga merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan fitri manusia, yang kedudukannya tak dapat digantikan oleh apapun.
Kebutuhan manusia terhadap agama, dalam arti kebutuhan akan adanya Tuhan dan peraturan-peraturan yang berasal dari-Nya dapat dilihat dari dua sifat dasar yang dimiliki manusia, yaitu keadaan psikologis dan sosiologisnya.
1. Secara Psikologis
Manusia memiliki perasaan akan adanya sesuatu yang menguasai alam dan dirinya, yaitu sesuatu yang mengatur dan menyusun peredaran alam ini. Dia menjadikan segala sesuatu dan memeliharanya. Dia berkuasa atas setiap sesuatu.
Kesan pertama bahwa Ada Yang Maha Kuasa itu merata pada semua umat manusia. Kesan itu timbul setelah manusia memulai memfungsikan akalnya. Kepada kekuatan di luar jangkauannya itu, manusia menaruh harapan-harapan akan kasih sayang, rasa aman, harga diri, rasa bebas dan keberhasilan. Untuk memperoleh semua ini, manusia menyusun tata cara peribadatan sesuai dengan kreasinya masing-masing. Dari sini lahir berbagai kepercayaan dan tata cara pemujaan terhadap Yang Maha Kuasa. Dalam masyarakat primitif, misalnya, dikenal adanya kepercayaan yang disebut dinamisme dan animisme.
2. Secara Sosiologis
Manusia, seperti makhluk hidup lainnya, dilahirkan sebagai makhluk sosial. Seorang individu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Setiap individu menunjukkan sikap yang baik dan keramahan yang sama, baik di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam kehidupan masyarakat.
Keadaan masyarakat serupa itu akan terwujud dengan adanya ajaran agama, karena agama-lah yang membimbing manusia agar menghargai kebajikan, menganggap suci keadilan, menyayangi sesamanya, menciptakan rasa saling percaya antara satu sama lainnya, menghargai nilai-nilai moral, dan memberikan dorongan untuk melawan kekejaman. Tanpa adanya nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial, maka masyarakat manusia akan hancur dan dengan demikian, dilihat dari sudut kehidupan sosial ternyata manusia sangat memerlukan agama. Itulah sebabnya, dalam agama (Islam), misalnya diatur hubungan antar manusia.
Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa ditinjau dari aspek sosiologis, manusia sebagai makhluk sosial mutlak memerlukan agama. Kehidupan sosial yang tidak diatur oleh agama, akan melahirkan kekacauan, dan menyeret manusia kepada kehidupan ala binatang yang tidak mengenal nilai-nilai moral, kesopanan dan budi pekerti yang luhur.

C. Fungsi Agama dalam Kehidupan
Sejak zaman primitif sampai zaman ultra modern (era globalisasi) saat ini, manusia tetap memerlukan Tuhan atau agama. Ini membuktikan bahwa bertuhan atau beragama menjadi fitrah manusia. Adapun fungsi agama dalam kehidupan antara lain:
a. Dapat menjadi pedoman dan petunjuk dalam hidup. Agama memberikan bimbingan dalam hidup ke arah hidup yang lebih baik dan diridhoi Tuhan:
b. Dapat menjadi penolong dalam mengatasi berbagai persoalan atau kesukaran hidup;
c. Dapat memberikan ketentraman batin bagi mereka yang dapat menghayati dan mengamalkan agama dengan sebaik-baiknya sehingga menjadi sejahtera dan aman sentosa kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat, dan bangsanya;
d. Dapat membentuk kepribadian yang utuh, atau membangun manusia yang seutuhnya;
e. Agama diturunkan untuk mengatur hidup manusia,meluruskan dan mengendalikan akal yang bebas.Kebebasan akal tanpa kendali bukan saja menyebabkan manusia lupa diri, melainkan juga akan membawa ia ke jurang kesesatan;
f. Untuk menyadarkan manusia agar mengenal dirinya (siapa dia, dari mana dan mau kemana dia). Setelah manusia sadar akan dirinya, maka agama akan menyadarkan manusia siapa penciptanya. Setelah manusia mengenal Tuhannya, agama menunjukkan cara-cara bagaimana manusia mengadakan hubungan dengan Tuhannya, dan kewajiban-kewajiban apa yang harus ditunaikannya.

D. Rasa Ingin Tahu Manusia
Dalam suatu fenomena kehidupan manusia, Hamzah Ya'kub dalam bukunya filsafat Ketuhanan, menggambarkan bagaimana manusia berkecenderungan memikirkan Tuhan, justru pada saat memikirkan eksistensi dirinya. Ketika seseorang mulai menyadari eksistensi dirinya, timbullah tanda Tanya dalam hatinya sendiri tentang banyak hal. Dalam lubuk hati yang dalam, memancar kecenderungan untuk tahu berbagai rahasia yang masih merupakan misteri yang terselubung. Misteri yang dimaksudkan itu berupa aneka pertanyaan yang antara lain: dari mana saya, mengapa saya tiba-tiba ada, hendak kemana saya, dan lain-lain bisikan kalbu lainnya.
Dari arus pertanyaan yang mengalir dalam bisikan hati itu, terdapat suatu cetusan yang mempertanyakan tentang penguasa tertinggi alam raya ini yang harus dijawab. Ketika pandangan diarahkan ke lazuardi biru, hati pun bergetar, siapa yang menata langit dan membangunnya demikian kekar dan indah. Di balik kekaguman akan romantika itu, hati mencoba menelusuri sipa Dia yang menempatkan letak bintang itu begitu permai, serasi dan memukau.
Semakin dewasa seseorang semakin banyak pula pengalaman yang diperolehnya sebagai hasil perenungannya terhadap alam semesta yang sekaligus semakin banyak yang ingin ia ketahui, dan semakin nampak misteri yang terselubung di balik kehidupan ini. Pada puncak renungannya terhadap fenomena kehidupan ini, bukan hanya naluri yang bergolak, melainkan otak dan logika mulai bermain untuk membentuk pengertian dan mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan atau Allah. Itulah rasa ingin tahu manusia tentang adanya Tuhan yang harus diimbangi dengan agama. Agar manusia dapat menemukan jalan yang lurus sesuai dengan perintah Allah dan tidak tersesat.


E. Doktrin Kepercayaan Agama
Doktrin berasal kata inggris “ doctrine ” yang berarti ajaran norma yang diambil dari wahyu yang diturunkan Tuhan, atau pemikiran mendalam dan filosofis yang diyakini mengandung kebenaran. Doktrin kepercayaan Islam itu meliputi 6 aspek yang harus diyakini kebenarannya. Dan 6 aspek itu dalam Islam dinamakan “ Rukun Iman ’’ yaitu :
a. Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah ialah:
 Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah
 Membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluk-Nya
 Membenarkan dengan yakin bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna. Suci dari segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk).
Kalimat la ilaha illa Allah atau biasa disebut kalimat thayyibah adalah suatu pertanyaan pengakuan tentang keberadaan Allah Yang Maha Esa: Tiada Tuhan selain Dia. Ia merupakan bagian dari lafad syahadatain yang harus diucapkan oleh seseorang yang akan masuk dan memeluk agama Islam. Bentuk pernyataan pengakuan terhadap Allah berimplikasi pada pengakuan-pengakuan lainnya yang berhubungan dengan-Nya, seperti zat Allah, sifat-sifat Allah, kehendak Allah, perbuatan (af'al Allah), malaikat Allah, para nabi dan utusan Allah, hari kiamat, serta surga dan neraka. Ia merupakan refleksi dari tauhid Allah yang menjadi inti menjadi ajaran Islam. Oleh karena itu, ia yang merupakan kalimat yang terdapat dalam hadis qudsi ini sangat sarat nilai. Pengakuan terhadap keberadaan Allah berarti menolak keberadaan tuhan-tuhan lainnya yang dianut oleh para pengikut selain agama Islam.
b. Iman Kepada Malaikat Allah
Beriman akan malaikat ialah mempercai bahwa Allah mempunyai makhluk yang dinamai "malaikat", yang tidak pernah durhaka kepada Allah, yang senantiasa melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Lebih tegas, iman akan malaikat ialah: beriktikad adanya malaikat yang menjadi perantara antara Allah dengan rasul-rasul-Nya, yang membawa wahyu kepada rasul-rasul-Nya itu.
Di dalam Al-Qur'an banyak ayat yang menyuruh kita mengimankan sejenis makhluk yang ghaib, yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak dapat dirasa oleh pancaindera, itulah makhluk yang dinamai malaikat. Diantara ayat-ayat itu ialah
...والمؤمنون كل امن بالله وملا ئكته...
Artinya: Dan mereka yang beriman, semuanya beriman akan Allah dan akan malaikat-Nya (QS. Al-Baqarah: 254)
Barsabda Nabi Muhammad saw
الايمان ان تؤ من بالله وملا ئكته
Artinya: Iman itu, ialah engkau beriman akan Allah dan malaikat-Nya (HR. Bukhari Muslim)
Ayat dan hadis itu manyatakan bahwa beriman akan adanya malaikat adalah wajib. Iman akan malaikat ini, masuk ke dalam iman barang yang ghaib. Orang yang mengingkari adanya, berarti mengingkari Al-Qur'an dan Rasul. Orang yang mengingkari keterangan kedua pegangan kaum muslimin itu tentulah tidak dinamai muslimin.
Jumlah malaikat itu banyak sekali dan tidak diketahui secara pasti. Hal ini seperti yang terjadi pada Perang Badar ketika Allah menurunkan beribu-ribu malaikat yang membantu kaum Muslimin untuk melawan musuh Islam, yaitu bangsa Quraisy. Akan tetapi, dari jumlah mereka yang banyak itu yang wajib diimani hanya sepuluh malaikat, yaitu Malaikat Jibril, Mikail, Izrail, Israfil, Raqib, Atid, Munkar, Nakir, Ridwan, Malik.
c. Iman Kepada Kitab-Kitab Allah
Beriman akan kitab-kitab Allah, ialah beritikad bahwa Allah ada menurunkan beberapa kitab kepada Rasul-Nya, baik yang berhubungan dengan itikad maupun yang berhubungan dengan muamalat dan siyasah, untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia, baik untuk akhirat maupun untuk dunia, baik secara individu maupun dalam bermasyarakat.
Kitab-kitab yang Allah telah turunkan berjumlah banyak, sebanyak Rasul-Nya. Akan tetapi yang masih ada sampai sampai sekarang nama dan hakikatnya hanyalah Al- Qur'an. Sedang yang masih ada namanya saja, ialah: Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil kepada Isa, dan Zabur kepada Daud. Kitab-kitab ini tidak ada lagi hakikatnya, karena telah banyak dirubah dan diganti oleh penganut-penganutnya.
d. Iman Kepada Rasul-Rasul Allah
Beriman akan rasul ialah: mempercayai bahwa Allah telah memilih diantara manusia beberapa orang utusan-Nya, yang berlaku sebagai perantara antara Allah dan hamba-hamba-Nya. Mereka bertugas menyampaikan kepada hamba Allah, segala yang diterima dari Allah dengan jalan wahyu dan menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus, menuntun, memimpin, membimbing manusia dalam menempuh jalan kesejahteraan dan keselamatan dunia akhirat.
Dalam rangka menyampaikan tugas risalahnya, para rasul dilengkapi dengan berbagai bekal keutamaan seperti kitab, mukjizat, dan sifat-sifat kemuliaan. Adapun sifat-sifat yang diberikan Allah kepada rasul adalah sebagai berikut:
1. Shidiq, artinya jujur dan benar serta terhindar dari sifat dusta (al-khidzib) atau bohong;
2. Amanah, artinya dapat dipercaya dan terhindar dari sifat khianat;
3. Tabligh, artinya menyampaikan dan terhindar dari sifat al-khitman atau menyembunyikan sesuatu;
4. Fathanah, artinya bijaksana dan brilian serta terhindar dari sifat al-jahl atau bodoh;
5. Ma'shum, artinya senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah sehingga apabila melakukan kekeliruan, langsung mendapat teguran dan koreksi dari Allah.
e. Iman Kepada Hari Akhir
Hari akhir ialah hari pembalasan yang pada hari itu Allah menghitung (hisab) amal perbuatan setiap orang yang sudah dibebani tanggung jawab dan memberikan putusan ganjaran sesuai dengan hasil hitungan itu.
Kita mengimani bahwa sesudah alam yang sedang kita tempuh ini, ada lagi alam yang kedua. Di alam kedua itulah Allah memberikan pembalasan baik kepada orang yang berbuat baik dan memberi siksa kepada orang yang tidak mentaati perintah.
Jelasnya, kita mengimani bahwa kita akan dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan di padang mahsyar yang disitu ditimbang amal perbuatan kita pada sebuah neraca (mizan). Pada hari pengadilan itu semua orang hanya menunggu vonis yang akan dijatuhkan oleh Allah dengan seadil-adilnya berdasarkan amal perbuatan pada masa hidupnya di dunia. Tidak seorang pun lagi yang bisa menganiaya orang lain dan tidak ada seorang pun jua yang mampu menolak keadilan Tuhan. Orang yang taat dan lebih banyak berbuat amal kebajikan akan dimasukkan surga, mereka akan tetap disitu selama-lamanya. Sebaliknya orang yang ingkar perintah, kecuali orang mukmin akan berada tetap di neraka. Mukmin yang amal kebajikannya lebih kurang dari perbuatan jahatnya akan berada sementara di neraka sebagai satu hukuman. Setelah menjalani hukuman selama waktu yang ditetapkan untuk membersihkannya dari perbuatan dosa yang dilakukannya, dia pun akan dimasukkan ke surga.
f. Iman Kepada Qada dan Qadar
Berdasarkan akan qadar tentang baik buruknya ialah mempercayai benar-benar, bahwa tiap-tiap yang terjadi di ala mini, adalah dengan takdir, menurut takdir yang telah ditentukan oleh Allah.
Kita harus mengimani bahwa:
 Allah-lah yang menjadikan segala makhluk-Nya, dengan qudrat, iradat, ikhtiar dan hikmat-Nya
 Bahwa Allah mempunyai aturan dalam menciptakan makhluk serta sifat dan keadaannya.







IV. KESIMPULAN
Manusia menurut agama Islam adalah makhluk yang sangat menarik dan manusia tidak digolongkan dalam kelompok binatang selama manusia mempergunakan akalnya dan karunia Tuhan. Dan agama itu sendiri adalah kepercayaan kepada Tuhan yang dinyatakan dengan mengadakan hubungan dengan Dia melalui upacara, penyembahan dan permohonan dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau berdasarkan ajaran agama itu.
Manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Dan kebutuhan manusia terhadap agama dalam arti kebutuhan akan adanya Tuhan dan peraturan-peraturan yang berasal dari-Nya dapat dilihat dari dua sifat dasar yang dimiliki manusia, yaitu keadaan psikologis dan sosiologisnya.
Peran agama dalam kehidupan manusia adalah dapat menjadi pedoman dan petunjuk dalam hidup, dapat menjadi penolong dalam mengatasi berbagai persoalan atau kesukaran hidup, dapat memberikan ketentraman batin bagi mereka yang dapat menghayati dan mengamalkan agama dengan sebaik-baiknya, dapat membentuk kepribadian yang utuh, atau membangun manusia yang seutuhnya, untuk mengatur hidup manusia,meluruskan dan mengendalikan akal yang bebas, untuk menyadarkan manusia agar mengenal dirinya (siapa dia, dari mana dan mau kemana dia)
Semakin dewasa seseorang semakin banyak pula pengalaman yang diperolehnya sebagai hasil perenungannya terhadap alam semesta yang sekaligus semakin banyak yang ingin ia ketahui, dan semakin nampak misteri yang terselubung di balik kehidupan ini. Pada puncak renungannya terhadap fenomena kehidupan ini, bukan hanya naluri yang bergolak, melainkan otak dan logika mulai bermain untuk membentuk pengertian dan mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan atau Allah. Itulah rasa ingin tahu manusia tentang adanya Tuhan yang harus diimbangi dengan agama. Agar manusia dapat menemukan jalan yang lurus sesuai dengan perintah Allah dan tidak tersesat.
Doktrin kepercayaan Islam itu meliputi 6 aspek yang harus diyakini kebenarannya. Dan 6 aspek itu dalam Islam dinamakan “ Rukun Iman ’’ yaitu : Iman kepada Allah, Iman kepada malaikat Allah, Iman kepada Kitab-kitab Allah, Iman kepada rasul, Iman kepada hari akhir, Iman kepada Qodo dan Qadar

V. PENUTUP
Demikian pembahasan makalah yang kami susun, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah sendiri. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dalam pembuatan makalah yang lebih baik selanjutnya.



















DAFTAR PUSTAKA
Ash- Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Al-Islam 1, Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2001, cet. 2.
Daud, Muhammad, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1998.
H.D., Kaelany, Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan, Jakarta: Bumi Aksara, 1990.
Hakim , Atang Abd., Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2000, cet. 3
Kusumamiharja, Supan, Studia Islamica, Bogor: Pendidikan Agama Islam INSTITUT PERTANIAN BOGOR, 1973.
Mubarok, Zaky, Akidah Islam, Yogyakarta: UII Press, 2001, cet.2.
Nata, Abuddin, al-Qur'an dan Hadits (Dirasah Islamiyah I), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994.
____________, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Razak, Nasruddin, Dienul Islam, Bandung: PT Al-Ma'arif, 1973.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar